Kamis, 14 April 2011

Showroom Primkopti: Pelayanan Satu Atap Bagi Pengrajin Tahu & Tempe

Lebih kurang 150 orang undangan baik dari pihak pemerintah, para pengurus Koperasi Tahu Tempe Indonesia (KOPTI), media, ibu-ibu PKK dan juga para pengrajin tahu & tempe ikut menghadiri acara diskusi dan peluncuran produk di halaman kantor Gedung Primer Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Primkopti) Jakarta Selatan, Jalan Kalibata Tengah No.9 Jakarta Selatan pada Selasa kemarin, 12 April 2011. Primkopti Jakarta Selatan mengetengahkan peran serta dan aplikasi pelayanan satu atap para pengrajin tahu dan tempe anggotanya.

“Jika sebelumnya, usaha pelayanan Primkopti hanya pada penyediaan bahan baku kedelai kepada pengrajin tahu tempe, kini kami mulai menambahkan penyediaan peralatan produksi yang lebih higienis”, ujar H. Tjasbari selaku pengurus dari Primkopti Jakarta Selatan.

Dimulai acara diskusi pada sesi pagi hari yang menampilkan paparan dari pihak Primkopti Jakarta Selatan sendiri, Program Tahu & Tempe Mercy Corps dan juga Prima Finance, sebuah lembaga pembiayaan yang terlibat dalam hal pembiayaan peralatan bagi pengrajin tahu tempe yang menginginkan membeli peralatan higienis secara kredit.

Direktur Prima Finance dan Ketua Umum Primkopti Jakarta Selatan juga melakukan penandatangan nota kesepahaman/MoU sebagai bentuk kerjasama aktif dalam membantu pembiayaan peralatan higienis bagi para pengrajin tahu tempe anggota Primkopti Jakarta Selatan serta tersedianya ruang pamer/showroom untuk peralatan produksi yang higienis tersebut.

“Ini merupakan potensi bagi usaha kami menyediakan pembiayaan peralatan higienis bagi pengrajin tahu tempe, selain jug sebagai bentuk tanggung jawab sosial kami untuk mendorong pengrajin memproduksi tahu dan tempe yang sangat digemari oleh masyarakat agar lebih higienis lagi,” kata Dedy Araan dari Prima Finance.

Memang selama ini peralatan produksi yang digunakan oleh para pengrajin tahu dan tempe masih secara sederhana, seperti drum untuk perebusan kedelai tempe menggunakan drum bekas oli yang jelas tidak memenuhi standar kesehatan. Sementara tahang kayu untuk tahu yang permukaannya tidak mulus sehingga sisa-sisa kedelai masih menempel dan mempercepat pembusukan. Produk tahu jadi tidak tahan lama.
   
Mercy Corps mencoba menawarkan produksi yang lebih higienis, efisien dan ramah lingkungan. Antara lain dengan peralatan stainless steel. Misalnya untuk merebus kedelai dalam pembuatan tempe, drum bekas oli diganti dengan drum stainless. Dan tahang dari stainless steel yang menggantikan tahang dari kayu jati yang diperlukan dalam pembuatan tahu. Ada juga ketel uap, alat giling, dan beberapa peralatan lain. Bahan bakar yang digunakan adalah gas yang menggantikan kayu bakar.

“Awalnya kami membantu dengan memberikan subsidi kepada pengrajin di berbagai wilayah di Jabotabek, termasuk di Jakarta Selatan untuk peralatan berupa drum stainless steel untuk produksi tempe dan juga kegiatan studi banding bagi pengrajin tahu melihat pabrik tahu yang sudah menerapkan produksi yang higienis, efisien dan ramah lingkungan di Bekasi dan Bandung., ungkap Irfansyah, Program Manajer Tahu & Tempe (T&T Program) Mercy Corps, yang dilanjutkan oleh H. Sutaryo, Ketua Bidang Usaha Primkopti Jakarta Selatan, “Ini sebagai usaha yang baik untuk dilanjutkan oleh kami untuk membantu meningkatkan kualitas produksi anggota kami para pengrajin tahu dan tempe”.

Sementara Direktur Mercy Corps Indonesia Sean Granville-Ross mengatakan, kegiatan ini tidak hanya ditujukan bagi perajin untuk meningkatkan produksi. ”Ini juga menjadi titik awal untuk memberikan kenyamanan dan keamanan bagi konsumen terhadap makanan sehat dan higienis,” katanya.


Dalam sesi kedua di siang hari, acara utama adalah peluncuran produk/launching product tempe berlabel dari salah satu pengrajin tempe anggota Primkopti Jakarta Selatan, “Tempe Sahroni”. Diperkenalkan produk tempe tersebut bahwa proses produksinya telah menggunakan peralatan yang higienis dan si pengrajin adalah anggota Primkopti Jakarta Selatan. “Jadi label ini untuk membedakan bahwa ini merupakan tempe yang bagus dan higienis, drumnya sudah tidak pakai drum bekas oli lagi, tetapi drum stainless steel”, jelas H. Tjasbari saat melakukan penyerahan secara simbolik produk tempe tersebut kepada seorang ibu sebagai perwakilan konsumen.

“Dari penggantian bahan bakar memang akan ada pembengkakan biaya. Rata-rata dalam satu hari seorang perajin yang mengolah sekitar 100 kilogram kedelai membutuhkan 1 kuintal kayu bakar seharga Rp 12.000. Jika memakai gas, diperlukan satu seperempat tabung gas ukuran 3 kilogram seharga sekitar Rp 18.000. Namun, konsistensi penggunaan peralatan ramah lingkungan membuat pabrik akan lebih efisien, bersih, asap berkurang, dan produksi tahu tempe bakal otomatis terdongkrak”, kata Irfansyah kembali, yang diamini oleh H. Sutaryo kembali, “laba pun bakal bertambah”.

Dalam bagian akhir acara tersebut, juga dilakukan pembagian doorprize melalui tantangan bernyanyi diantara para pengrajin tahu dan tempe yang hadir untuk menyanyikan lagu “Tahu Tempe” lagu dari era tahun 70-an oleh Oslan Husein dan juga lomba cara produsen tempe mempromosikan produk tempe yang higienis kepada konsumen mereka. Para pengrajin tampak senang dan terhibur dengan acara perlombaan tersebut.

Usai perlombaan, acara ditutup. Kemudian para pengrajin dapat secara langsung mengunjungi showroom peralatan produksi. Beberapa dari pengrajin tempe terlihat sibuk melihat-lihat dan bertanya kepada staf Prima Finance tentang peralatan-peralatan yang dipamerkan dan harga serta mekanisme pembayarannya. “Ini sangat bagus karena bisa membantu produsen untuk mendapatkan peralatan produksi yang higienis dengan lebih mudah dengan kredit, ujar Subadi seorang produsen dari Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Tampak terlihat beberapa produsen tersebut senang pulang dengan membawa peralatan baru yang mereka beli dari showroom tersebut. Transaksi yang tercatat dalam acara tersebut sangat bagus. Lebih dari lima pengrajin yang membeli secara tunai dan 4 orang pengrajin yang mengajukan pembelian secara kredit melalui Prima Finance. Seperti Dwi Toenanto, seorang produsen tempe dari Bintaro Jakarta Selatan yang tengah membeli burner kompor gas seharga IDR 350.000 secara tunai. “Saya sudah beli drum stainless dulu dan sekarang ada burner kompor di sini, jadi saya membelinya dengan cash. Dan ini sangat bermanfaat, pak”, jelasnya. (Alique Nursholiqin).

Berita terkait:
http://cetak.kompas.com/read/2011/04/13
http://industri.kontan.co.id

0 comments:

Poskan Komentar

'Related Post:' Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 


Silahkan copas [CODE]
diatas. Shout to tell us,
'n kami akan linkback:)


Tahu Tempe