Rabu, 02 November 2011

KOPTI Jaksel Lakukan Study Banding di Kendal dan Semarang Jawa Tengah

Upaya KOPTI Jakarta Selatan untuk menggenjot motivasi anggotanya demi mau berubah dan memperbaiki pola produksi tahu dan tempe patut diacungi jempol. Sebanyak tidak kurang dari 50 anggota dan pengurus KOPTI sudah tampak bersiap untuk melakukan perjalanan cukup jauh pada 21 Oktober dini hari dengan tujuan Kendal dan Semarang untuk melakukan study banding pada rumah produksi seorang perajin tempe sukses di kota itu, Pak Sohibin, serta kantor KOPTI Kabupaten Kendal Jawa Tengah. Turut dalam rombongan itu dua perwakilan team program T&T MercyCorps, Ridha dan Loji.

Kunjungan Ke KOPTI Kendal
Di Kendal, rombongan yang tiba sekitar pukul 10 pagi dengan mengendarai satu unit bus tersebut disambut dengan antusias oleh jajaran pengurus Kopti Kendal di kantornya. Dalam acara sharing yang digelar beberapa saat setelah itu, seorang pengurus Kopti Kendal sempat berseloroh, "Masak kelas enam mau study banding dengan kelas tiga..". Guyonan itu pun disambut tawa segar para hadirin. Berbicara dalam kesempatan tersebut Tohari dan Sutaryo mewakili pengurus Kopti Jaksel. Keduanya mengutarakan maksud dan tujuan acara kunjungan itu sebagai upaya untuk berbagi pengalaman dengan pengurus Kopti Kendal yang terhitung sebagai Kopti yang memiliki rating "diperhitungkan", dengan omset miliaran melalui usaha simpan pinjam dan suplay kedelai. Secara spesifik Sutaryo mengutarakan aspek usaha yang telah dilakukan oleh Kopti jakarta selatan dengan berbagai dinamikanya, selain juga menceritakan selayang pandang sejarah Kopti jaksel yang juga mengalami berbagai "badai" paska subsidi pemerintah sebagaimana juga banyak dialami Kopti-Kopti lainnya hingga akhirnya gulung tikar. Hal tersebut disampaikan Sutaryo untuk menjawab sebuah paparan pengantar seorang pengurus kopti kendal yang menyebut kopti Jaksel memiliki berbagai kemudahan karena berbasis di Ibukota negara.Hal lain yang menarik dari paparan Sutaryo adalah terkait upaya mendorong anggotanya mengganti peralatan lama dengan stainless stell dengan melakukan kerjasama dengan leasing. Dalam kaitan tersebut dia juga tak lupa menyebut MercyCorps sebagai mitra strategis yang selama ini hadir dalam upaya ikut mempromosikan produksi tahu dan tempe higienis di wilayah jakarta Selatan.

Ketua Kopti "Harum" Kendal, Rifai, secara umum menanggapi paparan Tohari dan Sutaryo dengan berusaha tetap merendah, "kami yang mustinya melakukan study banding, karena kelas kami masih di bawah kopti Jaksel yang baru saja mendapat predikat Kopti terbaik nasional urutan ke-tiga", kata Sutrisno, ketua Puskopti Jawa Tengah yang juga hadir dalam kesempatan itu. "Kami merasa tersanjung dan berterimakasih bisa berkesempatan melakukan sharing dengan bapak-bapak yang hadir di sini", tambahnya lagi. Ia juga menambahkan pentingnya untuk saling mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing lembaga untuk selanjutnya menjadi pelajaran dan pengalaman demi perbaikan bagi satu sama lain.
Dapur Produksi Tempe "Indofood" Sohibin
Sekitar pukul 1 siang rombongan pun segera berpamitan kepada seluruh pengurus Kopti Kendal untuk melanjutkan lawatan menuju kota berikutnya, Semarang. Tidak berbeda dari sebelumnya, ternyata di halaman rumah Pak Sohibin juga telah terpasang sebuah tenda ukuran sedang lengkap dengan tatanan kursi dan meja prasmanan plus hudangan makan siang yang menurut tuan rumah sudah dipersiapkan sejak dari pagi.

Dalam kesempatan tersebut, Sutaryo memulai sambutannya gengan memberi gambaran tentang profil pak Sohibin yang saat ini telah mampu berproduksi hingga 500kg kedelai perhari serta telah menjadi pemasok tempe bagi sebuah perusahaan makanan terbesar di Indonesia, Indofood. Turut menyambut dalam kesempatan itu Lurah setempat, Sohibien sendiri dan Ibu Nia, seorang peneliti dan pengurus Forum Tempe Indonesia (FTI) Jawa Tengah.

Dalam testimoninya sohibien menceritakan berbagai pengalamannya dari memulai usaha tempe dengan cara tradisional menggunakan drum oli hingga akhirnya memakai peralatan stainless. "Saya bukannya promosi loh ya.. tapi memakai stainless dan tidak itu perbedaannya sangat jelas. selain menjadi makin bersih, tempe kita juga bisa lebih enak di rasa dan lebih tahan lama. hal ini ditambah lagi dengan cara saya memasak yang sebanyak dua kali", katanya. "Saya dulu juga pakai drum bekas oli sebagaimana sebagian besar masih dipakai oleh perajin-perajin tempe. tapi setelah dikenalkan dengan stainless dan akhirnya mencoba perlahan-lahan produksi saya mulai terasa meningkat kualitasnya. Ketika Indofood menawarkan kerjasama dengan saya, maka saya pun berjuang bagaimana caranya mempertahankan kualitas dengan jumlah supplay yang diperlukan. maka saya pun mulai membenahi dapur dan gudang penyimpanan. Selain tetap menjual tempe untuk pasaran umum, supplay ke indofood bisa saya atasi dengan baik", kisah sohibien panjang lebar. Ridha yang ikut mendampingi Sohibien saat itu juga menambahkan berbagai keuntungan menggunakan stainless steel untuk perbaikan kualitas produksi tempe serta memberikan dorongan agar perajin dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan produk higienis yang semakin banyak dikehendaki masyarakat.

Setelah acara diskusi dan tanya jawab, rombongan diajak oleh sang empunya pabrik untuk mengunjungi tempat produksi. Dapur milik perajin itu tampak memang sangat bersih, luas dengan berbagai peralatan yang tersetup dengan rapih dan bersih. terdapat dua dandang ukuran superjumbo dengan empat titik lobang pembakaran gas, peniris otomatis serta berbagai peralatan pendukung lainnya. Setelah puas melihat-lihat sambil melontarkan berbagai pertanyaan kepada tuan rumah, rombongan selanjutnya diajak melihat gudang produksi yang terletak di tempat yang terpisah.

Pada gudang yang terbilang rapih dan cukup luas itu terdapat ratusan bungkus tempe yang sebagian telah siap untuk dikonsumsi. Dan benar saja, sebuah mobil milik PT. Indofood tampak sedang diparkir didepan gudang tersebut untuk melakukan pengambilan. "Sebagian akan segera dibawa ke Indofood untuk diproses", celetuk Sohibien. "Yang terpenting di sini tempe-tempe ini harus bisa benar-benar kuat. pengirisan yang dilakukan dengan tingkat ketipisan sebagaimana diinginkan Indofood menuntut tekstur tempe yang "keras" dan tidak 'protol' saat diiris", tambahnya lagi.

Sekitar pikul 5 sore hari rombongan terpaksa harus menyudahi keingintahuan mereka untuk selanjutnya bergegas menuju penginapan. Dalam perjalanan tersebut tak sedikit dari perajin yang saling melontarkan berbagai pendapatnya terkait dapur tempe kepunyaan Sohibien. Meski sebagian besar masih merasa terlampau jauh untuk bisa membandingkan diri, tapi toh hampir seluruh perajin yang turut dalam rombongan itu sudah pasti setuju bahwa Pak Sohibien pasti membutuhkan proses yang panjang untuk bisa menjadi seperti sekarang ini. Kepercayaan yang didapatnya dari Indofood pun tentu dengan pertimbangan yang benar-benar matang beralasan dan bukan sekedar lantaran nama Sohibien memiliki kemiripan pengucapan dengan kata Soybean yang yang berarti kacang kedelai, bahan dasar tempe. (Loji)

0 comments:

Poskan Komentar

'Related Post:' Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 


Silahkan copas [CODE]
diatas. Shout to tell us,
'n kami akan linkback:)


Tahu Tempe