Jumat, 02 Desember 2011

Pak Munziat : Sukses...Sukses...Sukses!

Diusianya yang ke 44, Pak Munziat, seorang pengrajin tempe asal Pekalongan,  tengah menanti kelahiran anak ke tiga dari isteri tercintanya, Muhafsah. Laki-laki yang beralamat di Jln RA. Kartini gang Mawar 6, Bekasi Kidul 08/13 Margahayu itu memiliki kata-kata sakti dalam menjalankan usahanya: Sukses.. Sukses.. Sukses!.

Dalam perjalanan hidupnya, Munziat kecil tinggal bersama pamannya yang juga seorang pengrajin tempe.  Sepuluh tahun Pak Munziat belajar membuat tempe hingga menjualnya di pasar sembari nyambi menjadi tukang kuli “anti repot” yang diupah hanya Rp 25 (dua puluh lima rupiah). Di usia 19 tahun, ia memberanikan diri untuk mandiri dan mulai membuka usaha tempe sendiri di Bekasi. Semangat untuk sukses mendorong setiap ayunan langkah usahanya, “Jika orang lain bisa, saya juga Bisa”, begitulah tekad itu tertanam kuat dalam batinnya. Dengan bermodal uang Rp 20.000, pada tahun 1988, ia pun memulai membuka usaha tempe.

Ternyata langkah awal menjadi pengrajin tempe tidaklah mudah. Beberapa kendala sempat dialami oleh Munziat seperti air yang digunakan untuk mencuci kedelai diambil dengan menggunakan pompa tangan. dan Padahal ia membutuhkan berember-ember untuk sekedar membersihkan kedelai. Tantangan kedua adalah proses memecah kedelai yang saat itu masih dengan cara diinjak-injak. Sehingga Praktis, seluruh waktunya habis tersita untuk mengerjakan pembuatan tempe. Hingga tahun 1990, ia pernah mengkhayal akan ada alat yang dapat membantu memudahkan proses pembuatan tempe.

Tahun 1995, saya mengganti pompa tangan milik saya dengan pompa jet pump dan ini mempermudah kerja saya. Kemudian, tahun 2003, saya mendapat informasi dari Kopti Jakarta Selatan bahwa ada mesin pemecah kedelai. kemudian saya pun lalu membeli alat tersebut. Tetapi untuk proses perebusan saya masih menggunakan drum bekas oli dan kayu bakar.

Tahun 2009, saya berkenalan dengan Mercycorps yang memberikan bimbingan produksi bersih dan mengikuti pelatihan Pola Produksi Bersih bersama Forum Tempe Indonesia. Setelah pelatihan itu, saya mendapat subsidi drum stainless dari Mercycops dan  langsung menggunakannya. Desain ruang produksi saya rubah atas biaya saya sendiri dengan membuat cerobong asap ke atas. Sekarang ini saya sudah menggunakan gas untuk merebus kedelai.

Saya merasakan manfaat dari setiap perubahan yang saya lakukan, penggantian peralatan produksi tersebut telah mempermudah pekerjaan saya, menghemat waktu, tenaga dan ruang produksi pun menjadi bersih.

Saya bersyukur dan merasa senang karena selain saya sendiri bisa memperbaiki produksi sendiri, ada 10 perajin tempe yang juga telah bisa berproduksi sendiri setelah sebelumnya ikut dapur produksi saya. Pencapaian ini juga membuat saya bermimpi  untuk memiliki rumah produksi tempe yang diatur khusus untuk kelangsungan produksi yang efisien, higienis dan ramah lingkungan sebagaimana diupayakan selama ini oleh Mercycorps.(Yuyu)

0 comments:

Poskan Komentar

'Related Post:' Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 


Silahkan copas [CODE]
diatas. Shout to tell us,
'n kami akan linkback:)


Tahu Tempe